Legatus : Bab I -Mayat Baja- Bagian II

Akhirnya, aku menemukan diriku disebuah pembukaan yang memiliki kehidupan. Lima set kabel dilingkarkan di sekitar balok baja dan dibundel sembarangan di lantai ini. Tampaknya mereka menggunakan  alat mendaki ini untuk sampai ke atas, menimbulkan pertanyaan: berapa banyak lagi yang ada di dalam gedung ini? Tidak ada yang menggunakan kabel untuk turun, tapi setidaknya ada dua yeng telah mengambil jalan pintas ke lantai dasar.

Level ini nampaknya lebih stabil dari yang sebelum-sebelumnya. Beton dan bahkan beberapa sebagian besar plester masih tetap tersisa, menciptakan sebuah jaringan retak dari medan yang dapat dilayari. Tepi terjal terbuka menjadi sebuah lubang kecil yang tampaknya secara acak, tetapi area yang tampaknya paling stabil adalah tepi ruangan, yang paling dekat dengan penyangga struktural. Dengan malu-malu aku mengetuk lantai dengan kakiku, menguji berat badanku, dengan satu tangan masih menggenggam erat anak tangga sebelum memberanikan diri untuk melangkah maju. Tubuhku lebih berat dari rata-rata pria, dan melihat sisa-sisa orang di luar, sepertinya remaja kurus yang sering berkunjung ke sini.

Memastikan untuk tetap sedekat mungkin dengan sudut, aku berjalan maju menembus kegelapan. Mustahil sekarang untuk mengatakan apakah ini pernah menjadi kumpulan kantor kecil atau perumahan yang “sangat terjangkau”. Setiap kamar di koridor utama adalah Salinan terakhir, kubus berukuran 15 x 15, ukuran yang sempurna untuk memuat tempat kerja atau tempat tidur dengan beberapa ruang untuk meregangkan dan bergerak. Itu semua adalah kemarahan di abad 21: berbuat lebih banyak dengan lebih sedikit. Jika tidak memicu kegembiraan, setidaknya kamu bisa menyewa atap dengan  empat dinding. Kemudian kamu bisa bangga dengan jejak karbon kecil anda bersama dengan ribuan orang lain yang berbagi bangunan dengan anda. Semua membayar tuan tanah yang kaya yang akan menepuk pnggungnya sendiri karena menyediakan perumahan berpenghasilan rendah kepada yang membutuhkan.

Tidak, jangan khawatir, ini bukan salah satu cerita sedih dengan sebuah pesan moral tentang untuk hidup hijau atau juga tentang menyelamatkan planet, pendengar yang budiman. Masalah kita akhirnya selesai dengan sendirinya. Tidak tanpa ada korban, tapi… itu cerita untuk lain waktu. Saat ini aku khawatir tentang runtuhnya ekosistem yang berbeda.

Isak tangis.

Tenang, jauh, dan terendam oleh banyak lapisan diantara sumbernya dan aku.

Aku meletakkan ujung jariku ke dinding yang runtuh dan merasakan suaranya sebagai getaran: tidak rata, tidak teratur, tidak salah lagi seperti manusia. Sebuah gambar terbenak dalam pikiranku tentang ruangan di sekitarku- seorang anak yang dikandung dari sensor di lenganku dan optik IIku. Visik kelelawar tanpa lengkingan yang berlebihan. Ambil kiri ketiga kemudian kamar ke-enam di sebelah kanan; Di situlah di mana rengekan memanggil.

Di dalam aku bertemu dengan kekacauan masa remaja. Seorang remaja laki-laki telah kembali ke bentuk janin dan merintih di lengan dan lututnya. Aku mengepalkan tangan kananku, melakukan yang terbaik untuk melembutkan ekspresiku bersama dengan nadaku.

“Nak… Apa kau baik-baik saja?”

Dia tersentak kemudian menatapku seketika, rambut biru cerah jatuh tepat ke mata kuning lebar yang meluap dengan panik. Tas hiking besar derwarna hijau di punggungnya dan cara dia meringkuk membuatnya terlihat seperti kura-kura, mengintip dengan hati-hati dari cangkangnya.

Pengecut dalam setengah cangkak. Cowabunga.

“I-itu…Siapa… Mereka?”

Beberapa kata keluar dari mulut bocah itu diantara napas yang terengah-engah, tetapi itu tidak banyak memberi tahuku. Aku masih tidak yakin apa aku berurusan dengan seorang pembunuh yang menyesal, atau korban yang trauma, aku melanjutkan dengan suaraku yang paling lembut dan penuh perhatian:

“Aku Fulgur Ovid, Legatus Divisi 505. Bisakah kau memberitahuku apa yang terjadi di sini?”

Saat aku menyebutkan divisiku, anak itu ambruk ke depan, merangkak dengan tangan dan lutut ke arahku. Tanpa sadar aku mundur selangkah dan mengangkat tanganku dalam posisi bertahan saat anak itu terus merengek:

“Selamatkan- aku- kau harus- tolong selamatkanku- itu masih ada di suatu tempat”

Mata anak itu berputar-putar, mencari bantuan yang tidak bisa ditemukan di manapun, bahkan saat seluruh tubuhnya membeku di tempat.

Desahan lain keluar dari tenggorokkanku tanpa membuka mulutku saat aku kembali ke posisi santai.

“Oke nak, tenang saja. Sebenarnya “itu” yang kau bilang, jelaskan ap aitu sebenarnya?”

Bahkan ketika pertanyaan itu keluar dari bibirku, aku menyadari sebuah gemuruh aneh yang semakin keras di sekitarku. Di dalam peti mati semen, sulit untuk mengatakan dari arah mana itu mendekat hanya dengan telingaku, jadi aku mundur selangkah ke koridor dan meletakkan tanganku di bingkai yang runtuh sekali lagi. Secara naluriah, remaja itu bergegas ke sudut jauh dan kembali ke bola janinnya.

Itu datang dari sebelah kiriku, tapi sangat lambat. Setiap detik berlalu, suara menjadi lebih jelas – semacam gesekan dan tarikan material berdaging saat bergerak. Aku melangkah keluar ke aula dan menunggu untuk menangani ‘itu’.

“Apakah… dia yang kamu takuti?” Tanyaku, tidak mengharapkan jawaban ketika aku terus berbicara dengan ‘itu’ sebagai gantinya, “Bu, saya di sini untuk membantu. Apakah Anda baik-baik saja?”

Dia berhenti bergerak, kepalanya berputar dari sisi ke sisi saat dia mencari suaraku dalam kegelapan. Bentuk yang aku lihat di sudut adalah seorang wanita dewasa, terikat dengan pergelangan kaki dan pergelangan tangan di belakang punggungnya dan menempel satu sama lain dalam pose seperti yoga yang menyakitkan. Pakaian tubuhnya adalah gaun tidur pucat, sebagian besar wujudnya memamerkan udara beracun. Beberapa isak tangis dan gumaman keluar dari mulutnya yang sekarang aku sadari tersumbat. Kabel di anggota tubuhnya, dan penutup mata di atas matanya adalah satu-satunya bahan lain yang menutupi daging pucatnya. Anak laki-laki di sudut ruangan berteriak keras sekarang dan mulai menangis

“Bunuh! Bunuh sebelum dia menyerang kita!”

Wanita itu bergoyang dan meluncur di tanah yang kotor, lututnya tergores saat dia menyeretnya ke depan dengan satu-satunya gerakan yang bisa dia lakukan saat terikat. Cairan gelap keluar dari daging yang robek saat dia memaksa dirinya menembus kegelapan.

“Bu, jangan khawatir, saya di sini bukan untuk menyakiti anda.” Aku membuka lenganku, jari-jari terulur dalam pose yang tidak berbahaya meskipun dia tidak bisa melihatnya dan mulai berjalan ke sisinya.

“Saya seorang Legatus. Saya ingin Anda diam sejenak sementara saya melepaskan ikatan Anda. Bisakah Anda melakukannya untuk saya?”

Erangan persetujuan keluar dari bibirnya saat dia mulai terisak hampir sama seperti anak laki-laki itu. Berlutut di sisinya, aku melihat ke seluruh tubuhnya dan berkedip sekali atau dua kali dengan jijik. Dia jelas sudah lama berada di sini dan ada lebih dari beberapa tanda pelecehan yang menimpanya.       

“Saya tidak bisa membuka atau melepaskan penutup mata dari anda, tapi anda sekarang bisa bicara. Apa anda bisa memberitahu nama anda dan apa yang terjadi?”  

Setelah sumbatan dilepas, Wanita itu batuk beberapa kali dengan isakan dan napas yang terengah-engah.

“D-D-Dana” Dia berhasil keluar saat aku menatapnya dengan hati-hati.

“Sekarang tidak apa-apa, Dana. Mereka tidak akan bisa menyakiti dirimu lagi”

Terutama yang berada di luar, aku perhatikan diam-diam untuk diriku sendiri.

“Bagaimana anda bisa samnpai di sini?”

Setelah penutupnya dilepas, dia menangis tersedu-sedu beberapa kali, diselingi oleh getaran hebat di tubuhnya. Aku berharap bisa membuatnya lebih nyaman, tapi bentuk yang terpelintir dan buta berada di luar pengaruh kekuatanku.

“Aku tidak tahu!” Isak tangisnya muncul lagi aku menunggu dengan diam hingga isak tangis itu mereda.

Suaranya serak, dengan siulan yang nyaring.

“Aku ingat semalam aku mau tidur- atau mungkin beberapa hari yang lalu. Ketika aku terbangun… Aku terikat… dan diletakkan ke lantai yang berada di ruangan lain. Aku tak mampu melihat atau berbicara, tapi aku berusaha untuk memanggil pertolongan. Beberapa saat kemudian, mereka muncul. Mereka mulai mengejekku dan menertawakanku… mereka melemparkan barang-barang ke arahku dan mulai menendangku!”

Sekarang dia benar-benar menangis.

Aku berlutut di sana bersamanya untuk waktu yang lama. Satu-satunya kenyamanan yang bisa aku berikan kepada dia adalah tepukan lembut di punggungnya saat dia mengeluarkan rasa sakit dan penderitaanya. Ketika dia sudah mulai tenang, punggung dan pahaku mulai terasa sakit karena posisi berlututku. Melihat liuk yang dia paksakan, aku hanya bisa menggertakkan gigiku karena frustrasi. Dia bahkan tidak tahu kenapa dia berada di sini atau siapa yang telah mengutuknya menjadi seperti ini. Kami duduk di dalam keheningan, tidak ada satupun yang siap untuk mulai bergerak.

“A-Apa sudah selesai?”

Remaja penyu itu menjulurkan kepalanya keluar dari ruangan tempat dia bersembunyi, air mata dan ingus mencekik kata-katanya.

“Itu adalah salah satunya!”

Wanita itu berteriak ketakutan saat dia bergoyang ke belakang.

“Berjam-jam, mungkin berhari-hari, mereka menyiksaku sebelum akhirnya istirahat. Baru saat itulah aku berhasil menyeret diriku bebas dari tanah. Kemudian ketika datang padaku lagi, aku membanting mereka untuk melarikan diri! Ada dua lagi! Anda harus menangkap mereka!”

Saat wanita itu menjerit, aku memelototi anak laki-laki itu. Dia menciut kembali, wajahnya jelas mengakui bersalah saat menghilang ke dalam keamanan ruangan lain.

“Saya akan melakukannya,” aku berjanji saat aku mengangkat tanganku lebih jauh ke atas wujudnya.

“Dia dan teman-temannya akan mendapatkan hukuman yang pantas mereka terima. Dia terlalu pengecut untuk lari.”

Aku menepuk bahu wanita itu sekali lagi dengan tanganku yang bebas sebagai tanda simpati. Melihat bahwa itu tampaknya menenangkannya daripada membuatnya takut, aku dengan hati-hati menelusurinya ke belakang kepalanya.

“Pertama, apakah anda siap untuk dibebaskan oleh saya?”

Dia mengangguk, memutar sedikit untuk memperlihatkan lebih banyak punggungnya padaku dan bentuk melingkar tempat dia terikat. Bayangan itu berkilauan dan berdenyut lembut. Kulitnya yang pucat sejernih salju musim dingin, rambutnya yang pirang sebercahaya daun-daun terakhir yang menempel di pohon musim dingin. Dalam hidup, dia pasti cantik.

TING

Tinjuku mendekati bagian belakang tengkoraknya. Bentuknya berdenyut dengan cahaya yang untuk terakhir kalinya memudar sesuai dengan nada teredam dari bangunan di sekitarnya. Sirkuit dan hujan logam dan apa yang tersisa di tanganku hanyalah sebuah hard drive yang hancur. Aku kembali menarik tanganku dan mengambil sebagian sisa bentuk nyata di depanku.

Di kehidupan lain, mesin ini nampaknya adalah bagian dari peralatan konstruksi dengan komponen Aritifical Intelegience untuk melakukan tenaga kerja secara otomatis.

Siapa pun yang meretad ini melakukannya dengan sangat baik. Dalam beberapa kasus, I’mprint akan kehilangan rasa dirinya. Yang satu ini ingat nama aslinya dan memiliki bentuk fisiknya sendiri yang tertanam dengan baik sehingga berhasil meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia hanya diikat, ditutup matanya dan disumpal daripada di mesin yang tidak memiliki penglihatan atau anggota badan yang berfungsi. Fungsi suaranya diredam untuk meredam kengerian dari apa yang mereka lakukan.

Dana, si I’mprint baru saja mengalami pengalaman mengerikan yang terasa seperti berhari-hari baginya. Sebenarnya anak laki-laki itu mungkin menghabiskan berminggu-minggu jika tidak berbulan-bulan melecehkannya dan hanya mematikannya di antara sesi. Sementara itu, Dana si wanita bisa saja berada di mana saja saat ini, menjalani kehidupan terbaiknya. Dia mungkin bahkan tidak tahu bahwa seseorang telah meretas kode I’mprint-nya dan membuat salinan masa lalunya untuk dimainkan monster. Atau dia mungkin telah menjual kodenya sendiri untuk mendapatkan uang tambahan. Itu biasanya menyebabkan penyesalan begitu yang asli mendengar beberapa situasi yang salinannya telah menjadi sasaran; Aku tidak punya mulut dan aku harus berteriak. Aku tidak memiliki saraf namun tak henti-hentinya saya merasa sakit…

Petunjuk lain untuk ditindaklanjuti setelah kasus ini. Mungkin mengarah ke peretas itu sendiri, jika bocah yang selamat tidak bisa.

Sebuah paduan suara membuatku tersadar dari lamunanku ketika kura-kura remaja itu menemukan kakinya dan mulai merangkak ke poros elevator, sekarang aman dari monster ciptaannya sendiri. Aku berada di atasnya sebelum dia selesai memasang kabel untuk memulai penurunannya. Aku memegang kerahnya saat aku menekan ke depan, tubuh bagian atasnya miring di atas poros kosong. Jika aku melepaskannya, dia akan jatuh dengan cara yang sama seperti teman-temannya, meskipun tidak menghancurkan dinding berkeping-keping, dan menjadi protein sehat bagi raksasa baja itu. Itu adalah alasan lain mengapa setelan usang seperti miliknya tidak digunakan, mereka membatasi gerakan dan tentu saja tidak mengapung dengan baik.

“Tolong! Maaf! Aku tidak akan kabur! Aku akan bayar denda, aku akan menjalani waktu hukumanku, jangan sakiti aku”

Teriak bocah itu dengan tangannya yang menempel erat di lenganku yang kokoh.

“Di mana kau mengunduh Duo yang diretas” Aku bertanya sebagai tanggapan, dengan suara sedingin dan sekeras lenganku.

“Aku tidak tahu!”

Aku maju selangkah, membiarkan anak laki-laki itu menjuntai dengan sudut yang lebih menakutkan . Jeritan lain datang dari bocah itu sebelum dia melanjutkan.

“Itu Darren! Temanku mendapatkannya secara online! Beberapa dari situs porno anonim! To-tolong!”

Aku meninggalkan anak itu tergantung sejenak lalu aku menatap wajahnya. Ketakutan itu asli meskipun berdenyut dan berkilauan dengan samar. Itu saja info yang dia tahu, jadi dia tidak terlalu dibutuhkan lagi. Membawanya masuk kemungkinan hanya akan menyebabkan beberapa dinas militer karena tidak mungkin keluarganya dapat membayar denda besar dan kuat yang berasal dari kejahatannya. Dia pada dasarnya mendapatkan kesempatan karir untuk menyiksa seorang I’mprint… kecuali.

Aku mengambil kabel dari tangannya saat ia menggantung di atas poros. Utas panjang ini satu-satunya jalan keluar dari kutukan di bawah. Akankah beban dari dosanya menyebabkan dia tenggelam? Apakah dia pantas mendapatkan pengampunan dari laba-laba ini?

Tentu saja aku bercanda, pendengar yang budiman. Aku bukan penggemar cara Republik menangani kasus penyalahgunaan Duo, tetapi aku juga tidak sombong atau merasa benar sendiri untuk melihat diriku sebagai hakim, juri, dan algojo dalam hal apa pun. Ketakutan kebetulan menjadi serum kebenaran yang berguna. Aku pasti sudah gila sekarang jika aku se-emosional itu dalam setiap kasus. I’mprints bukan manusia dan walaupun aku bisa bersimpati dengan mereka dengan sementara, aku tidak akan membiarkannya mengkonsumsiku di luar pekerjaan. Pekerjaanku sudah selesai di sini dan aku lebih dari siap untuk keluar dan minum.

Aku memasang kabel ke ransel anak itu dan berkedip sekali lagi, membuat wajahnya yang berdenyut menghilang. Alih-alih, mata abu-abuku sekarang melihat betapa sedikit yang aku dapat dari bentuk aslinya. Ini adalah gumpalan berbentuk manusia dengan warna abu-abu kusam dengan lensa optik besar di wajahnya dan bagian tengahnya yang bulat dan bulat  menjaga udaranya tetap bersih. Memastikan bahwa dia terpasang dengan aman ke kabel, saya membawanya ke tangga.

“Kalau kau coba lari lagi, aku akan menghabisimu,” Ucapku berbohong sambil melepaskannya. Sebenarnya dia tidak akan sulit ditangkap. Dokumen yang terkait dengan korban manusia akan lebih banyak butuh upaya daripada mengejarnya, jadi sebaiknya aku hindari itu. Ini perjalanan panjang kembali ke HQ dan laporan itu sendiri sudah akan membuaku lembur.

Legatus : Bab I -Mayat Baja- Bagian I

Mayat baja itu berdiri dengan sikap menantang di pinggiran kota. Sekam tumbuh-tumbuhan berakar di dasar bumi, setelah mati-matian berusaha memanjat raksasa itu demi mencari-cari untuk surga. Semakin dekat ke puncak tumbuh-tumbuhan dan cabang menempel, semakin banyak tanda radiasi terbakar dan mutasi kanker mereka menampilkan fosil mereka sendiri. Sedikit dari blok dasar bangunan yang belum sempurna yang tersisa di lantai dasar. Bahan organic bulat itu sendiri pada saat ini lebih arang dari kehidupan- Memberikan tengkorak baja itu hanya daging yang belum membusuk. Semen, plaster, dan niscaya asbes yang pernah sekali terpasang ke tulang yang sudah lama terbakar, remuk, dan sebaliknya hancur menjadi hazmat di bawah. Lebih jauh ke atas gedung desain kotak-kotak semen lebih terlihat. Ini adalah bentuk kehidupan yang lebih dikenali

Aku berkedip beberapa kali, melihat tempat kejadia perkara di depanku. Mata abu-abu dingin menyesuaikan dan menggeser pandangan, tapi tidak peduli bagaimana aku melihatnya, masih tetap mengerikan. Sebuah desahan panjang keluar dari mulutku karena aku tidak bisa menahannya lagi. Mirip akar di tempat, aku mengizinkan tatapanku untuk jatuh ke dasar tepat di depanku. Sisa dari dua pemuda terbaring di tumpukan trotoar. Melihat banyaknya jumlah kekacauan dan bagaimana motif Roscharch terbentuk dalam radius yang luas, terlihat jelas mereka berada di atas mayat logam itu.

Bagiku salah satunya terlihat seperti domba yang empuk… Aku tidak memiliki ide apa seorang psikologis akan berseri-seri dari pengamatan tersebut.

Aku menutup mataku beberapa detik sebelum membuka mataku kembali, dan kekacauan sebelumku berubah menjadi karya seni yang warna-warni. Gumpalan daging dan buah ditaruh di tanah dan dituangkan ke atas mereka semua adalah anggur ungu yang kaya yang terlihat terlalu memikat bagi orang yang haus sepertiku. Jika kalau bukan untuk denyut nadi dan kilau gamba raku mungkin mempertanyakan pemandangan mana yang nyata.

Oh, jangan khawatir, pendengar yang budiman. Kita tidak akan membuka kaleng cacing itu. Perumpamaan terkait dengan Dante’s Inferno cukup klise, tapi kau tidak akan pernah mendengar aku berjuang untuk memisahkan realita dari fiksi. Tentu, kita semua mengatakan sedikit kebohongan ke diri kita sendiri untuk melewati hari dengan kewarasan kita yang utuh, dengan menempatkan sebuah pemutaran ramah keluarga di tempat pembunuhan hanyalah cara lain untuk membuat massa tetap tenang, dan jika aku menggunakannya untuk mempertahankan konten keuangan ini, siapa korbannya? Tentu saja selain barang-barang yang mudah rusak di sekitarku.

Diantara makanan di dasar adalah sisa-sisa sirkuit dan selubung logam. Bahkan di dalam kekacauan ini mudah sekali untuk menarik kesimpulan apa penggunaan mereka sebelumnya; layar retak yang dimasukkan dengan pas ke dalam lembaran sintetis membuatnya terlalu jelas. Siapapun anak-anak ini dan apa yang membimbing mereka untuk menjadi bahan makanan tumpah, mereka akan pernah terlihat tidak berbeda dengan massa miskin yang menggenang di pinggiran Republik.     

Total Budy Suits, atau TB Suits Seperti ini adalah salah satu dari banyak jalan di mana kemanusiaan mampu untuk bertahan di ekosistem modern. Sebuah tas punggung besar berisi semua peralatan untuk menyaring udara membersihkan cairan limbah dan menyalakan layar dan perangkat suara yang diperlukan untuk melihat Duoverse. Sementara itu, lapisan tipis yang hampir ketat mengelilingi seluruh tubuh, untuk melindungi sebagian besar pemakainya dari radiasi dan polutan lainnya.

Itu adalah teknologi yang sudah using, berfungsi tapi tidak nyaman. Bahkan penduduk kelas rendah Republic biasanya mampu membeli dengan metode yang bijaksana. Penanaman di tenggorokan untuk penyaringan dan penggantian jaringan adalah upacara peralihan yang umum saat seorang anak tumbuh, sehingga di usia remaja mereka hanya membutuhkan headset untuk menyesuaikan diri. Kelas menengah biasanya mampu memiliki II (mata palsu di mana mereka adalah bagian utuh untuk kehidupan Republik) ditanamkan pada sekitar di umur enam tahun jadi tidak ada bentuk headset yang diperlukan melalui masa remaja.

Aku berbalik menjauh dari mayat baja sejenak untuk melihat kota dari kejauhan, semua menyala dalam nuansa neon crimson dan neon cyan. Bahkan dengan matahari baru saja mulai terbenam, Republik muncul sebagai menara api, mengalahkan segalanya dengan daya pikat buatannya, masing-masing sebagai seragam dan dibangun untuk berfungsi sebagai yang terakhir. Matahari baru saja mulai terbenam, namun kabut asap yang dipancarkan oleh nenek moyang kita telah menyebulungi planet yang dulu subur itu dalam tirai debu melankolis- kotoran badan orang-orang terdahulu yang tidak lagi kita klaim sebagai milik kita. Alih-alih menyatu di bawah bumi menjadi bentuk yang lebih berguna, mereka masih bertahan, dan dalam segala hal, satu hadaih terakhir dari mereka yang tidak melakukan apa-apa selain mengambil.

Sudut bangunan memberiku jalan masuk yang mudah. Sekam yang sudah lama mati itu kebetulan membentuk lereng yang mengarah ke lantai tiga. Setelah pendakian berbahaya itu ada tanda-tanda tempat tinggal manusia;gangguan parasit yang sama yang hidup lebih lama dari setiap tuan rumah. Kaleng soda bekas, bungkus makanan dan banyak puntung rokok berserakan di lantai papan kayu tumbal sulam dan semen yang runtuh.

Setidaknya mereka memiliki kecerdasan untuk memperkuat area di mana mereka menghabiskan waktu. Aku bertanya-tanya, bagaimana mereka bisa berakhir tersebar berkeping-keping di luar?

Setiap langkah aku ambil menuju sekam diselingi dengan derit dari bawah kakiku. Beberapa tenang seperti desahan hening, yang lain keras seperti erangan kesakitan. Melihat ke bawah menuju kegelapan melalui lubang yang terbuka. Mau tidak mau, aku menatap sejenak pada cairan yang bergerak perlahan beberapa lantai di bawah. Fondasi dari logam raksasa ini, sekarang bertindak sebagai baskom, telah mengumpulkan air hujan selama dasawarsa dan membentuk rebusannya sendirinya dengan tergenang, bau yang menyerang inderaku jauh lebih banyak daripada daging segar yang berada di luar.

Jika parasit jatuh ke dalam, mereka pasti akan menjadi bahan dalam kaldu, dicerna oleh baja raksasa yang sudah membusuk, tidak ada yang pernah tahu nasib mereka. Semua orang tahu mungkin ada lusinan orang di bawah yang berpikir bahwa menyelinap ke dalam gedung yang ditinggalkan adalah sebuah ide yang bagus.

Tipe-tipe itu cenderung tidak ditemukan bahkan dalam kesempatan langka ketika seseorang benar-benar peduli untuk melihat, renungku.

Bagaimanapun, apapun yang menggiring ke daging yang tersebar berkeping-keping di luar pastinya bukan pembunuhan yang direncanakan, tapi sesuatu yang telah melunakkan mereka sebelum gaya berat pastinya.

Papan kayu membawaku ke sebuah kotak logam memanjang ke langit. Setelah poros lift, masih memungkingkan penduduk untuk mendapatkan dari satu lantai ke lantai lain, hanya metode yang melibatkan tangga anak tangga sederhana yang mencuat dari interiornya. Aku mulai naik, terkejut bahwa setidaknya mereka tidak membuat suara lebih dari dentang-dentang logam sederhana pada logam dari hubungan kami.

Pada setiap lantai baru aku selalu melihat keluar melalui celah dan tidak menemukan apapun selain sisa-sisa reruntuhan tanpa adanya tanda-tanda kehidupan. Setiap lusin anak tangga akan hilang atau setengahnya runtuh di satu sisi, kemungkinan yang tampaknya menguntungkan setidaknya untuk saat ini. Saat memanjat lantai demi lantai, mau tidak mau aku bertanya-tanya apakah seperti ini rasanya menjadi anak yang kaya, dan sehat dengan sebuah rumah kayu sebelum musim gugur; poros lift ini menuju ke clubhouse rahasia anak-anak ini yang di mana mereka pikir aman.

Aman seperti hal-hal yang datang di pinggiran, Aku rasa.

-Bersambung ke Bab I bagian II      

Kamigami no Asobi merchandise review.

DSCN0090

This is actually a very old draft and I decided to post it lol. Actually these Items arrived in October 2014. The merchandise i bought are mousepad and pencilcase

DSCN0092

The pencil case quality is really good and you can put your psp inside. I use it to put my stationery tho.

Mousepad is really flat. and honestly it remind me of shitajiki. I think it more fits as clear poster instead of mousepad.